Jan 29 2010

Bali identik dengan Joger, Jogja ada Dagadu, Blitar ada WENTAR

Published by admin under Uncategorized

wentar1

wentar2

wentar3

wentar4

wentar5

Sebutan Wentar memang belum sepopuler dengan pendahulunya yang sudah membumi seperti halnya Joger dan Dagadu, namun berangkat dari keyakinan kami bahwa pada suatu masanya nanti wentar akan bisa kawentar seperti halnya dua icon daerah tersebut yang sangat terkenal di bumi pertiwi negeri domestic ataupun manca Negara.

Wentar adalah suatu komunitas yang baru saja kami bentuk yang bergerak dalam bidang  home undustry kerajinan batik ikat dan batik tulis serta beberapa jenis kaerajinan yang lain yang nantinya akan kami kelola secara kelompok.

Wentar ada sebenarnya berangkat dari kegiatan iseng saja namun nampaknya malah menjadikan ketagihan untuk terus berlatih dan berkarya, membuat batik ikat  yang tampaknya dari hasil kegiatan belajar itu muncul suatu gagasan bagaimana kalau karya ini kita kelola dan kita  pasarkan memang  ternyata dalam awal kami melangkah untuk menindak lanjuti hasil kegiatan kami ini sudah mendapatkan apresiasi yang negative dan positif sudah tentu, ini merupakan suatu tantangan bagi kami  yang semakin menggoda untuk segera kami wujudkan yang kemudian kami kerjakan. Dalam perjalanan kami berlatih dengan ilmu serta kemampuan kami yang serba terbatas ternyata justru kami sudah direspon secara positif oleh para pecinta karya batik ikat, yang notabene walau kami masih tahap belajar namun kami sudah berani menerima pesanan yang cukup menggembirakan bagi kelompok kami, sehingga semakin memantapkan bagi kami semua untuk terus berkarya dan berkarya  yang ternyata respon ini juga tidak luput dari Bapak Lurah kami yang kemudian tampaknya Bapak Lurah kami  juga berkenan karena ada salah satu kelompok warga masyarakatnya yang sangat kreatif menciptakan peluang dan lapangan kerja sendiri tanpa harus menunggu dari pemberian pemerintah, bahkan kelompok kami juga mendapat kucuran dana yang cukup untuk menopang kekuatan modal kami yang masih relative kecil. Kegiatan kami juga sempat diapresiasi oleh Bapak ketua DPRD Kota Blitar yang mana ketika itu sengaja kami undang untuk kami ajak  shering dengan para pengrajin rintisan kelompok wentar, maksud dan tujuan kami mengundang beliau  adalah  kami mencoba untuk memohon dapatnya kebijakan-kebijakan  dari pemerintah yang berupa bantuan dalam bentuk apapun yang dapat memberi selusi  masalah kami dalam kelangsungan kegiatan kami sehari-hari.

Setelah  Bapak Ketua DPRD Kota Blitar berkunjung ke tempat kegiatan kami berikutnya ada respon dari Deperindag Kota Blitar juga sempat mengunjungi kami karena berkaitan dengan Proposal yang kami coba ajukan untuk dapatnya kebijakan berupa bantuan peralatan guna menambah ketahanan modal dalam meneruskan kegiatan kami, namun kami tahu dan sangat menyadari bahwa memang kami masih sangat baru terbentuk dan keberadaan kamipun mungkin masih disangsikan kesungguhan dari kegiatan kelompok kami sehingga mungkin ketika mau memberikan bantuanpun tentunya tidak dengan  serta merta  lansung dicairkan karena apa?

Semua jenis kegiatan yang mengajukan bantuan harus melalui prosedur yang tentunya tidak sederhana juga harus melalui kajian-kajian dilapangan secara realistis keberadaan jenis kegiatan yang dikelola kelompok ataupun perorangan kemungkinan-kemungkinannya perlu tidaknya dibantu secara materi ataupun non materi yang bersifat teknis atau pelatihan, lagi pula dilembaga itupun tentunya sudah numpuk antrian yang panjang sebelum proposal kami ajukan karerna  pemohon bantuan itu sendiri juga sangat banyak jenis kegiatan yang harus dibantu oleh pemerintah, sehingga pemerintahpun harus selektif dalam menentukan  kebijakannya ketika akan merealisasi bantuan kepada masyakat tentunya butuh koordinasi dalam menentukan skala prioritas bantuan pada msyarakat atau pengusaha kecil.

Wentar memang masih embrio masih butuh waktu yang saangat panjang untuk tumbuh dan berkembang guna mensosialisasikan dirinya, untuk meraih sukses kepada pasar atau konsumen yang menggemarinya pada kelak dikemudian hari memang tidak mudah semua butuh  waktu, pengorbanan  dan perjuangan yang sangat panjang, kami yakin pendahulu kamipun pasti awal perjalanannya juga demikian dari sedikit demi sedikit, dengan perjalanan waktu yang panjang maka merekapun jadi besar dan seperti keberadaan mereka sekarang ini sebab sukses suatu usaha itu datangnya tidak serta merta seperti semudah membalik telapak tangan semua butuh kesabaran dan ketelatenan apalagi ini bentuk kegiatan yang sifatnya merintis dari awal namun mempunyai orientasi yang besar untuk kedepan, semua datangnya dari dorongan kemauan sendiri dan swadaya apa adanya tanpa  mengada- ada.

Seiring dengan perkembangan teknologi membuat kerajinan batik boleh dikatakan sudah sangat maju. Alat bantu dari batik sablon hingga sampai pada alat bantu cap bahkan sampai pada industri batik yang berskala besar sudah memanfaatkan program mesin cetak tekstil untuk menghasilkan suatu produk yang sangat beraneka warna dan ragam coraknya mulai dari motif tradisional hingga sampai pada motif yang bercorak modern, semua bisa dikerjakan secara cepat dan tepat, bahkan dengan adanya alat bantu computer seseorang dapat bekerja secara professional dengan hanya memprogram gambar atau desain secara tepat dan praktis sekaligus pewarnaan yang dikehendaki pada satu alat tersebut yang kemudian diaplikasikan pada kain yang berpuluh – puluh meter panjangnya pada waktu yang relative sangat singkat, jika dibandingkan dengan pengerjaan batik sablon ataupun cap lebih – lebih pada pengerjaan batik tulis  yang dalam hal ini sungguh membutuhkan waktu yang cukup lama itupun hanya pada kain dengan ukuran yang sangat terbatas maksimal tiga meteran dengan  satu warna saja sudah butuh waktu yang tidak cukup sehari dalam membuat motif yang harus dicanting  dan belum proses pewarnaannyapun juga butuh waktu berjam – jam sampai pada jadi sebuah karya batik, belum lagi kalau motifnya penuh dan warnanya lebih dari dua warna saja tentu akan sangat membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.

Komunitas Wentar yang baru mencoba untuk menekuni dan merintis home industry          kerajinan batik yang mungkin sudah ada namun tampaknya belum begitu banyak yang  mengelola secara komersiil, disini kami anggap peluang untuk kami jadikan suatu kegiatan dikala senggang, yang ternyata ujung-ujungnya dapat menghasilkan uang tambahan disamping penghasilan pada kegiatan tetap kami, walupun masih kecil adanya namun kepuasan batin dan semangat berkarya terus menggelora.

Dalam perjalanan kami yang baru saja  belum genap 3 bulan kami sudah cukup dibilang  repot melayani pesanan untuk setingkat kelompok pengrajin pemula yang baru saja belajar,sebab kelompok kami masih relative sedikit, karena tidak lebih dari sepuluh orang yang aktif.

Wentar punya banyak program home industry kerajinan  yang bisa ditawarkan kepada pasar yang nantinya bisa meramaikan pasar souvenir seperti halnya dagadu dan joger yang sudah sukses duluan,  Wentar yang tinggal tunggu waktu, perjuangan masih panjang untuk dapat menjadi kawentar pada masanya nanti Wentar  akan disukai dan diminati akan dikenang dan dikunjungi para wisatawan di Blitar baik domestic maupun orang manca.

Harapan kami semoga Wentar dapat menjadi bentuk alternative oleh – oleh  asli dari Blitar untuk para pengunjung atau konsumen dikawasan Kota Blitar.

Akhirnya, Semoga dengan kehadiran Wentar di sudut kota yang kecil ini kelak akan menumbuh kembangkan kami untuk menjadi sosok yang besar karena semangat kami yang sudah matang dalam berkarya.

Penulis adalah :

(  Pembina WENTAR )

Slamet saja

Blitar,29 Januari 2010

No responses yet

Dec 15 2009

“Wong Emoh Nganggur Tanjungsari Blitar” Hasilkan Batik Wentar

Published by jokoblitar under Uncategorized

Sumber : http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=35b272dbe0af151087c1e1121fd67ecb&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc&PHPSESSID=5fd5b3478663129514149efa3e412e84

“Wong Emoh Nganggur Tanjungsari Blitar” Hasilkan Batik Wentar
Selasa, 24 Nopember 2009 | 11:05 WIB

Oleh: Tri Iwan Widhianto

Di Kota Blitar, juga ada batik tradisional yang banyak diminati masyarakat. Salah satunya adalah kain batik cap khas Blitar, Batik Wentar. Berdirinya perusahaan ini, salah satunya juga berangkat dari keprihatinan dengan banyaknya klaim budaya bangsa Indonesia oleh bangsa lain.

Karena itu, Slamet (44) mencoba untuk mempertahankan konsep kain batik daerah, khususnya di Kota Blitar. Slamet yang juga guru kesenian di SMPN 5 Kota Blitar berusaha mengadopsi nilai budaya lokal dengan membuka usaha kerajinan batik ikat atau dengan istilah lain, kain batik cap khas Blitar diberi nama Batik Wentar.

Dengan pengelolaan yang sederhana pula, Slamet berusaha memberdayakan perempuan setempat yang mayoritas ibu-ibu rumah tangga. Bertempat tinggal di Perumahan BTN Pakunden Blok D/IV No. 14 Desa Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, Slamet berproses dibantu para ibu rumah tangga yang berjumlah 22 orang.

Setiap hari ibu-ibu ini memproduksi puluhan hingga ratusan corak kain Batik Wentar dengan bermacam-macam motif dan warna. Kelompok usaha yang bernama Wentar tersebut, tambah Slamet, merupakan kependekan dari kalimat Wong Emoh Nganggur Tanjungsari Blitar. “Jadi, daripada menganggur setelah mengurus rumah tangga, mereka membuat batik dan hasilnya bisa menambah kebutuhan keluarga,” jelas dia.

Cara pembuatan batik juga tergolong sederhana namun mempunyai ciri khas lain daripada kain batik pada umumnya. Ini merupakan magnet tersendiri bagi para pembeli, terutama di lingkungan instansi Pemkab Blitar dan Pemkot Blitar.

“Semenjak berdiri Maret 2009 lalu kami selalu kebanjiran pemesan. Mereka datang dari mana-mana, bahkan Pemkab Blitar memesan ratusan lusin kain batik kami untuk dijadikan baju resmi dinas,” ujar dia.

Sementara yang lain ada yang datang dari luar Kota Blitar bahkan dari Solo hingga Jogjakarta juga pesan ke Blitar. “Padahal, dua kota tersebut merupakan sentral kerajinan kain batik tingkat nasional, tapi justru sebagian juga memesan dari kami,” terang Slamet.

Dalam sehari kelompk usaha kain batik, yang namanya cukup unik ini, mampu memproduksi antara 20 potong hingga 50 potong kain batik dengan ragam corak dan warna. “Awalnya produksi kami hanya beberapa potong saja, namun karena permintaan selalu ada dan terus-terusan, akhirnya setiap hari mampu memproduksi hingga 50 kain batik dengan macam corak dan warna,” katanya.

Selama ini, Batik Wentar satu lembar dihargai antara Rp 65 ribu sampai Rp 75 ribu. Harga tesebut tergantung dari tingkat kesulitan pengerjaannya dengan cara celup atau cap. Di singgung perhatian Pemkot Blitar, Slamet mengaku kalau Pemkot berjanji akan mengurus hak atas kekayaan intelektual (HAKI) dan diharapkan bisa cepat beres. Melalui Disperindag Kota Blitar pula usaha Slamet telah dibantu dua unit mesin cap kain batik. *

No responses yet

Oct 24 2009

Batik Wentar kota Blitar

Published by admin under Uncategorized

batik wentar (2)

batik wentar (1)

batik wentar (17)

batik wentar

batik wentar (4)

batik wentar (22)

batik wentar (16)

No responses yet

Йоркширский терьер